Tidak Ada Pekerjaan Yang Terlalu Kecil

Kemarin, saya berdiskusi dengan seorang kawan. Salah satu topik yang tidak sengaja terlintas adalah mengenai instansi dimana saya bekerja.

Sebagai penghuni kota kembang yang sering lewat di depan kantor perwakilan di daerah tersebut, ia mengungkapkan bagaimana pandangannya terhadap kondisi kantor yang sering ia lalui setelah sekian lama.

Kantornya besar, sayangnya terlihat seperti kantor mati. Sepi, dan seperti kurang penghuni untuk ukuran gedung sekitar 4 tingkat. Kurang terlihat adanya aktivitas berarti seperti kantor-kantor pemerintahan lain yang ada di sebelahnya.

Begitulah kira-kira pandangannya. Karena yang berbicara adalah teman baik, tentu saya anggap ini sebagai masukan yang membangun. Saya pun menyampaikan bagaimana kondisi dan posisi instansi saya ini dalam pemerintahan.

Kami memang melakukan pelayanan publik, tetapi bukan untuk kebutuhan seperti perekaman data penduduk, pembayaran pajak dll yang langsung melibatkan banyak orang.

Struktur pegawai pun tergolong ramping sehingga memang relatif lebih sepi untuk ukuran kantor yang berada di perkotaan.

Tidak hanya sekali ini saya menerima kritik seperti ini. Beberapa kali juga, sempat ada kawan yang menyatakan bagaimana posisi dan kondisi instansi ini di mata mereka.

Tentu lebih banyak komentar negatif yang saya terima. Mulai dari hasil pekerjaan yang tentunya tidak terasa langsung di masyarakat, hingga kualitas output yang terus dipertanyakan.

Belum lagi metodologi pekerjaan yang dirasa semakin berat untuk dilaksanakan membuat saya harus legowo menerima setiap kritikan yang muncul.

Semua pendapat tersebut saya terima dengan lapang dada. Apa yang sekiranya salah, saya coba luruskan.

Dan apa yang memang benar, tentu menjadi saran berharga bagi saya dan instansi ini khususnya. Karena pada dasarnya, instansi ini bukan hanya milik kami para pegawainya, tetapi milik seluruh bangsa Indonesia.

Tidak Ada Pekerjaan Yang Terlalu Kecil

Masih dari obrolan yang sama dengan sang kawan, entah kenapa, obrolan kami merambat ke arah pekerjaan. Namanya juga kawan baik, ejek-ejakan tentang kondisi pekerjaan adalah hal yang biasa dan saya anggap sebagai candaan saja.

Ditempatkan di timur, jauh dari keramaian, tiket pulang yang begitu mahal, jarak tempuh yang mencapai puluhan jam, dan hal tak terbayangkan lainnya menjadi konsekuensi dan tanggung jawab yang harus saya terima sebagai lulusan sekolah kedinasan.

Bukan kali ini saja saya menerima komentar seperti ini. Saat mudik pun, saya kerap mendengar bagaimana orang-orang mengomentari pekerjaan saya yang sangatlah tidak sebanding dengan kompensasi dan kondisi yang harus dihadapi.

Bagi saya, hal seperti ini bukanlah perkara besar. Tidak masalah!

Cukup dibalas saja dengan senyum dan pembuktian bahwa berada di sini bukanlah sebuah hal yang menyedihkan.

There is no small job. Just small people ! – Gulliver

Begitulah kutipan sederhana dari film Gulliver Travel yang pernah saya tonton. Tidak pernah ada yang namanya pekerjaan kecil. Yang ada, hanyalah orang-orang yang menganggap kecil pekerjaannya.

Ditempatkan di pedalaman dengan fasilitas seadanya, gaji pun sama dengan yang di Jawa, dan tidak ada kepastian mutasi menjadi hal yang wajib kami (saya juga tentunya) terima.

Sedih? Jelas! Berulang kali saya dan seorang sahabat baik yang ditempatkan di Papua ingin mengajukan resign atau pindah instansi. Sayang, uang kami tidak cukup untuk membayar ganti rugi kepada negara wkwkwk.

Karenanya, saya pun mulai belajar mengambil hal-hal baik yang bisa di dapat di pedalaman ini. Daripada mengeluh, lebih baik bersyukur. Daripada fokus kepada masalah, lebih baik baik fokus kepada anugerah tersembunyi yang kami dapat disini.

Tanpa terasa, sudah 3 tahun 6 bulan disini. Saya pun tumbuh dengan segala keterbatasan yang ada. Saya diberikan kepercayaan penuh mengelola seksi layaknya seorang eselon IV.

Saya juga diberikan musibah amanah mengelola keuangan selama 2 tahun anggaran, saya belajar banyak tentang dunia konstruksi, dan banyak hal lainnya yang mungkin sulit untuk dideskripsikan.

Di sisi lain, Saya sudah menulis 1 buku, meskipun dengan nama anonim. Insyaallah buku kedua dalam proses editing, doakan bulan ini selesai ya. Saya memberanikan diri mengelola blog dengan nama pribadi untuk terus mengasah kemampuan menulis.

Saya juga harus kreatif mengelola keuangan dan mencari pendapatan tambahan di Internet mengingat gaji yang tak kunjung naik tapi harga tiket pesawat terus meroket setiap tahunnya.

Berbangga diri ? Ahh tidak ! Saya tahu, dibandingkan teman-teman yang lain saya hanyalah butiran sagu di ujung Indonesia Timur.

Setiap mudik, saya selalu mendengar kabar luar biasa dari sahabat-sahabat saya dan ini menjadi motivasi untuk diri sendiri agar terus belajar dan menjadi lebih baik.

Memulai segalanya dari bawah dan kondisi sulit (menurut saya lho ya) mengajarkan saya bahwa sebenarnya tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil dan hina untuk dikerjakan.

Tiga tahun menjadi surveyor dengan berbagai macam responden membuat saya mengerti bahwa setiap pekerjaan adalah istimewa selagi semua diniatkan untuk mencari nafkah dan keluarga. Tentu saja, ini dala, konteks pekerjaan yang halal ya!

Sebuah hotel yang megah dan mewah tidak akan ada artinya tanpa juru bersih yang selalu siap sedia membersihkan hingga celah dinding ruangan. Seorang tukang ojek online mampu bisa mendatangkan kebahagiaan bagi mereka yang memesan makanan di tengah hujan dan kelaparan.

Seorang kurir barang sangatlah ditunggu kedatangannya bagi mereka yang menanti paket agar diterima dengan selamat. Sebuah bangunan dengan perencanaan dan desain yang mewah tidak akan terwujud tanpa adanya tukang yang mau mengeluarkan tenanganya untuk pekerjaan tersebut.

Begitu juga instansi ini. Seluruh pencapaian dan kerja keras yang mengatasnamakan Indonesia tidak akan tercapai bila salah satu dari kami yang berada di daerah terpencil ini tidak menyelesaikan tugas tersebut.

Semua angka yang kami hasilkan merupakan gambaran dari kerja keras setiap unsur pegawai bahkan di tingkat paling rendah sekalipun.

Survei yang sudah dirancang sedemikian rupa tidak akan ada artinya tanpa orang-orang yang pantang menyerah menghadapi kondisi lapangan yang semakin sulit.

Di kantor ini, saya belajar makna dedikasi dari seorang pegawai yang terus berusaha menyelesaikan pekerjaan apapun kondisinya. Mengeluh adalah hal yang wajar, tetapi menyelesaikan pekerjaan sebaik mungkin jauh lebih penting daripada mengeluh dengan tumpukan pekerjaan yang datang silih berganti tanpa henti.

lakukan-yang-terbaik-di-setiap-pekerjaan

Lakukan Yang Terbaik Di Setiap Bagian Pekerjaan Kita

Kita tidak tahu bagaimana Allah mengubah nasib kita. Empat tahun yang lalu, saya masih menikmati gemerlapnya Jakarta tapi hari ini saya dihadapkan kenyataan dengan lengangnya I bagian timur Indonesia. Lucu memang, begitulah takdir !

Tugas kita sederhana. Terima dengan lapang dada sambil terus mencari sisi positifnya. Berada di pedalaman dengan segala keterbatasan akses dan fasilitas bukanlah sebuah halangan. Selalu ada celah mengembangkan diri yang bisa dimanfaatkan.

Ada kawan saya yang membuka bisnis di daerah penempatannya. Ada juga yang mulai menulis di media cetak. Ada juga yang terus membuat karya digital seperti desain, vlog, dan semacamnya.

Ada yang tetap mengikuti konferensi ilmiah. Ada juga yang sudah menulis buku hingga Best Seller. Mengalihkan waktu kepada kegiatan produktif menjadi hal yang perlu dilakukan untuk membunuh kebosanan.

Tetaplah bekerja memberikan yang terbaik, meskipun hasilnya belum tentu baik. Menjaga semangat agar tidak luntur di setiap pekerjaan dengan deadline yang bertubi-tubi memang tidak mudah. Terlebih lagi belum tentu ada reward bagi yang menyelesaikannya tepat waktu dan berkualitas.

Tapi begitulah seharusnya attitude sebagai seorang pekerja. Siap dengan segala konsekuensi memberikan yang terbaik. Toh kita makan dan hidup dari apa yang diterima dari Instansi ini.

Berapapun dan bagaimanapun, kantor dan negara ini berhak mendapatkan keringat terbaik dari setiap orang yang mengabdi kepadanya.

Saya sendiri melihat, kerja keras tidak akan mengkhianati hasil. Mereka yang bekerja lebih keras dari rekan sejawatnya, mendapatkan hal-hal baik yang tak terduga.

Ada yang tiba-tiba mendapatkan tawaran mutasi ke pusat, ada juga yang jalannya mulus untuk melanjutkan Studi S2.

Andai katapun kita tidak mendapat hal demikian, maka yakinlah Allah sudah mencatat pekerjaan kita sebagai amal ibadah dengan nilai tambah yang berlebih. Bila bukan berbalas hari ini, insyaAllah di akhirat nanti.

Penutup

Ini bukan mengeluh lho ya ! Hanya saja, saya terinspirasi dari sebuah obrolan panjang dengan sorang kawan. Bahwa setiap pekerjaan adalah istimewa. Penempatan di daerah terpencil bukanlah masalah yang menghambat pengembangan diri.

Kalau menghambat menemukan cinta, mungkin iya!

Well, nikmatilah masa ini. Di manapun berada, kita berhak untuk tumbuh dan menjadi lebih baik dengan segala ketebatasan yang ada. Semua pilihan ada di tangan. Hanya ingin pasrah, atau terus berubah !

The choice is yours !

Karena semua akan (p)indah pada waktunya.