Akhirnya, Kami Tiba di Jepang

Well, dengan mengucapkan bismillahirrahmnirrahim, aku meninggalkan kampung halamanku dan berangkat ke negeri sakura, Jepang.

Salah satu negara yang menjadi impian banyak orang untuk didatangi, salah satu tanah yang menjadi doa bagi anak muda di Indonesia, dan aku mendapatkan kesempatan untuk jalan-jalan menimba ilmu sekaligus mengasah berbagai keterampilanku sebagai seorang statistisi di sini.

Ya, Jepang yang sudah aku idam-idamkan sejak sekian lama, kini menjadi rumahku untuk 1 semester kedepan.

Pada tulisan ini, aku menulis sedikit cerita tentang kedatangan Profesor Kataoka ke Unpad dan bagaimana sedikit persiapan yang kami lakukan.

Well, di tulisan ini, aku akan berbagi apa saja persiapan yang aku lakukan sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) Pemerintah Daerah agar bisa sampai tugas belajar di negeri orang.

Percayalah, kalau kamu PNS Pemda, kamu akan sangat relate dengan yang akan saya tulis ini:

1. LoA dari Rikkyo University dan Certificate of Eligibility dari Imigrasi Jepang

suasana-penyambutan-mahasiswa-baru-di-Rikkyo-University
Suasana penyambutan mahasiswa baru di Rikkyo University

Sebelum tiba di Jepang, 2 hal ini adalah hal yang akan memberikan jaminan bahwa kita memang diterima resmi sebagai seorang mahasiswa oleh Pemerintah Jepang.

Letter of Admission (LoA) atau terkadang juga disebut sebagai Letter of Acceptance (LoA) merupakan selembar surat resmi yang dikeluarkan oleh pihak kampus yang menyatakan bahwa kita telah memenuhi kriteria sebagai mahasiswa baru pada program tersebut. Untuk mendapatkan LoA ini, tentunya dibutuhkan serangkaian proses.

Karena aku adalah penerima beasiswa Bappenas, proses pendaftaran ini cenderung lebih mudah karena kami hanya perlu mengisi berbagai formulir mengunggah dokumen-dokumen yang diperlukan seperti KTP, surat keterangan sehat, hasil TOEFL ITP, dll.

Cukup banyak keterangan dan dokumen yang kami unggah di website Rikkyo University dan diperlukan kehati-hatian agar tidak salah unggah.

Setelah 1 bulan berproses, akhirnya LoA kami pun terbit. Kira-kira, begini bentuk LoA dari Rikkyo University.

Nah, hal berikutnya yang harus aku urus adalah Certificate of Eligibility (CoE) yang dikeluarkan oleh pihak Imigrasi Jepang.

Dalam pengurusan CoE ini, aku dibantu oleh pihak Rikkyo University. Jadi, aku hanya perlu mempersiapkan beberapa dokumen sebagai syarat dari pengajuan CoE.

Hal yang paling menguji kesabaran dari mengurus CoE ini adalah kita tidak bisa mengontrol kapan CoE ini akan keluar.

Ya memang ada aturannya beberapa minggu begitu, hanya saja kalau pihak imigrasi Jepang memerlukan waktu lebih untuk memeriksa dokumen kita, yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu.

Menjelang 1 bulan waktu perkuliahan dimulai, akhirnya CoE ini terbit juga. Kira-kira, seperti ini bentuk dari CoE.

LoA dan CoE sudah di tangan, berikutnya yang perlu dilakukan adalah mengurus paspor biru

2. Pengurusan Paspor Biru

Salah satu sudut di akihabara

Paspor biru merupakan paspor resmi kedinasan yang digunakan oleh petugas resmi negara yang mendapatkan penugasan khusus di luar wilayah NKRI.

Dengan paspor ini, kamu secara tidak langsung menyampaikan pesan bahwa keberadaanmu di negara tersebut merupakan utusan resmi dari Indonesia.

Fyi, paspor biru dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri, bukan Kementerian Imigrasi. Alur pengurusannya pun berjenjang dari bawah hingga Kemenlu.

Untuk pemerintah daerah tingkat Kabupaten/Kota, kamu harus mengajukan secara bertahap mulai dari Walikota/Bupati, Gubernur, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Sekretariat Negara, dan akhirnya sampai di Kementerian Luar Negeri.

Panjang ya?

Tapi tidak perlu khawatir, hampir keseluruhan proses itu dilakukan secara daring sehingga kamu tidak perlu keliling satu per satu untuk mengurusi.

Sependek pengalamanku, yang paling memakan waktu itu adalah pengurusan di tingkat kabupaten/kota.

Aku beruntung, menjadi PNS Pemerintah Kota Padang Panjang yang memiliki pelayanan ka na sangat baik dan mudah. Aku mengurusi surat-surat ini hanya bermodalkan whatsapp saja kepada orang-orang yang berwenang, dan semua selesai. Aku tidak perlu repot kian kemari mengemis tanda tangan atau hanya sekadar nomor surat.

Namun, berdasarkan cerita di beberapa Kabuapten/Kota lainnya, pengurusan ini bisa berlangsung lama bahkan nyaris tersendat kalau tidak diberikan perhatian khusus.

Beberapa rekanku sampai memutuskan harus pulang ke kampung halaman karena harus mengurusinya secara langsung. Tentu pulang ini tidak dengan tangan kosong. Harus ada “oleh-oleh” yang dibawa.

Setelah urusan selesai di Instansi masing-masing, urusan akan dilanjutkan ke Kementerian Sekretarian Negar (Kemensetneg)

Saat sudah selesai nanti, yang bersangkutan akan diminta langsung untuk mengambil paspor biru tersebut di loket Kementerian Luar Negeri.

Tenang saja, semua proses ini gratis. Apresiasi sekali untuk Kementerian Luar Negeri dengan pelayanan yang luar biasa untuk ka na ASN.

3. Pengurusan Visa

Foto di depan Sensoji Temple, Asakusa
Foto di depan Sensoji Temple, Asakusa

Setelah mendapatkan CoE dan LoA, barulah kita bisa memulai untuk mengajukan pengurusan visa. Karena aku akan berangkat sebagai mahasiswa, maka jenis visa yang diurus adalah visa student.

Untuk jenis visa ini, pengurusannya harus langsung di Kedutaan Besar Jepang yang berlokasi di Jakarta. Setahuku, ada beberapa tempat lain seperti konsulat yang bisa melakukan berbagai pengurusan. Namun, khusus untuk visa pelajar, harus dilakukan di Kedubes langsung.

Untuk pengurusan visa pelajar ini, teman-teman bisa mengacu pada persyaratan ini.

Nah, untungnya, karena saya berstatus sebagai PNS, ka nada surat rekomendasi khusus dari Kementerian Sekretariat Negara kepada Kedutaan Besar yang menerangkan bahwa kita adalah perwakilan resmi dari negara sehingga direkomendasikan untuk diberikan kemudahan dalam pengurusan visa ini.

Dengan adanya surat ini, ka nada banyak sekali syarat yang gugur, termasuk wawancara.

Ya, anda tidak perlu melakukan wawancara dengan pihak Kedutaan Besar Jepang jika memiliki surat rekomendasi ini.

Setelahnya, anda akan menunggu selama 3 hari kerja hinga visa benar-benar siap.

Dan, anda hanya perlu membayar sebesar Rp 320.000 saja, tanpa ada biaya lainnya.

Pertanyaan lainnya, apakah pengurusan ini bisa dibantu oleh pihak ketiga seperti travel, kenalan, dll?

Sepemahamanku, bisa. Kedutaan memberikan izin untuk mengurusi visa pelajar ini melalui jasa agensi travel yang memang resmi terdaftar.

Kami juga sempat akan menggunakan jasa pihak ketiga untuk pengurusan ini.

Hanya saja, kalau menggunakan agen, tentu biayanya akan lebih mahal. Jadi, lebih baik mengurusi sendiri secara mandiri.

Prosesnya sangat mudah, tidak perlu reservasi.

Cukup datang saja pada jam pelayanan Kedubes Jepang, ambil nomor antrian, isi formulir, dan serahkan seluruh berkas permohonan visa dengan lengkap.

Nantinya, petugas dari Kedubes akan memberikan invoice untuk pembayaran yang berisikan tagihan serta tanggal penjemputan visa.

4. Hal-Hal yang aku siapkan sebelum berangkat

Transport Bandara Haneda

Bersama taksi yang menjemput kami
Bersama taksi yang menjemput kami

Untuk transport bandara, sebenarnya ada beberapa opsi. Mulai dari yang paling murah yaitu naik kereta, naik bus, hingga sewa taksi.

Setelah mempertimbangkan berbagai opsi, saya dan teman-teman memtuskan untuk memilih taksi.

Alasannya?

Karena kami berangkat berlima dengan jumlah koper mencapai 7, hanya taksi yang merupakan opsi yang paling memungkinkan. Meskipun agak mahal, ya tetap worth lah.

Bagi yang ingin tahu alamat taksinya, silakan akses tautan ini: https://narita.airport-taxi.soushin-ichiba.jp/en, ikuti saja prosedur pemesanannya. Nanti akan dijemput via bandara, supirnya akan membawa papan nama pemesan.

Karena barang bawaan kami banyak, kami memesan yang HiAce.

Tempat Tinggal

Beruntungnya, sebelum kami tiba di Jepang, kami sudah menemukan tempat tinggal yang cocok dengan tunjangan beasiswa yang kami dapatkan wkwkwk.

Kami tinggal di Takasago Student House, sebuah asrama khusus mahasiswa yang terletak di kota Higashimurayama, Prefektur Tokyo.

Lokasinya sekitar 40 menit dari pusat Kota Tokyo, masih okelah bila ditempuh dengan kereta. Toh kami punya banyak waktu luang di sini.

Harganya juga sangat murah dibandingkan seluruh kos atau apato yang pernah kami survey. Hanya 4500 yen, sudah all in semua.

Listrik, air, AC, internet dll sudah tercakup di dalamnya.

Aku sudah bercerita dengan banyak mahasiswa internasional dari berbagai yang tinggal di berbagai lokasi apato.

Kesimpulannya, Takasago Student House ini adalah pilihan terbaik untuk single. Ingat, single ya, bukan keluarga.

Kalau kalian tertarik, ini tautan google mapsnya https://maps.app.goo.gl/tpm3zgU6BzmwqQ5RA.

Barang Bawaan

Nah, perkara barang bawaan ini boleh tergolong relatif ya. Kamu bisa menyesuaikan Aku sendiri, hanya bawa 4 pasang stel pakaian, topi, 1 jaket.

Sisanya?

Beli di Jepang aja.

Jepang itu surganya fashion, beragam merek berkualitas dengan harga terjangkau ada di sini. Uniqlo dan GU juga sering diskon.

Kalau mau lebih murah, kamu bisa beli baju second yang tersedia di berbagai toko di Jepang. Harganya bahkan ada yang start dari 300 yen.

Aku termasuk penggemar barang secondhand Jepang. Baju-baju second di sini benar-benar dikurasi dengan baik dan layak pakai. Bila beruntung, anda bahkan bisa mendapatkan barang baru yang kondisinya unused, lengkap dengan tag harga dan kancing cadangan.

Untuk makanan, kebetulan aku tidak tertarik membawa banyak. Hanya indomie dan kopi saja. Aku tidak tertarik untuk memakan makanan Indonesia di sini. Lebih baik, aku memaksimalkan waktuku untuk makan makanan Jepang, daripada makanan Indonesia.

Tapi, jika kalian memang ingin berhemat, bawalah makanan Indonesia sebanyak mungkin seisi koper kalian. Tentunya, dengan mempertimbangkan aturan yang berlaku ya. Bawa mie instan yang banyak, sambel, saos, kecap, kopi instan, dll.

5. Hal pertama yang aku lakukan saat tiba di Jepang

Di depan kampus Rikkyo University
Di depan kampus Rikkyo University

Well, setibanya di Jepang, yang pertama dilakukan adalah belanja.

Ya jelas lah belanja, terutama belanja untuk keperluan sehari-hari. Ada 3 tempat belanja harian yang aku rekomendasikan kepada kalian.

  • Seria

Ini adalah toko serba 100 yen. Semua harga di sini dimulai dari 100 yen. Mulai dari piring, gelas, mangkok, dll. Tapi, 100 yen ini adalah harga paling murah ya. Ada juga barang-barang lainnya yang lebih dari 100 yen. Yang jelas, ini adalah must to place kalau kamu datang ke Jepang.

  • Daiso

Sebenarnya, daiso ini juga adalah toko serba 100 yen. Hanya saja, varian barang yang dijual di daiso menurutku jauh lebih beragam. Mulai dari barang yang penting hingga barang yang tidak penting pun ada di sini. Anda bahkan bisa menemukan pewarna rambut hingga casing hp dengan harga 220 yen di sini.

  • 3coins

3coins ini sebenarnya toko-toko yang mirip dengan Seria atau Daiso. Bedanya, harga barang di coins ini mulai dri 330 yen. Tapi, kualitasnya jauh melebih Daiso. Kalau kalian menginginkan barang yang berkualitas, mampirlah ke toko ini.

Hal berikutnya yang aku lakukan adalah membuat kartu langganan kereta (commuter pass). Jepang adalah negara yang memiliki akses kereta ke berbagai wilayah. Setahuku, semua orang memiliki kartu kereta di sini sehingga aku tentu juga harus memilikinya.

Ada beberapa pilihan kartu kereta, namun aku memilih Pasmo. Bentuknya seperti ini.

Biaya pembuatannya, 500 yen. Anda bisa mengisi saldo Pasmo ini di berbagai mesin pengisian saldo kereta di stasiun atau fasilitas publik lainnya. Selain itu, kartu Pasmo ini juga bisa digunakan sebagai uang elektronik yang bisa digunakan untuk membayar bus, cable car, ropeway, vending machine, dll.

Penutup

Dengan segala drama yang ada, dan beratnya perjuangan sebelum keberangkatan, aku pun tiba di Jepang dengan selamat. Senang sekali rasanya menginjakkan kaki di luar negeri

Jujur, aku bukan orang yang tertarik dengan liburan ke luar negeri atau semacamnya. Bagiku, alasan untuk ke luar negeri hanyalah 2; ibadan dan sekolah.

Alhamdulillah, aku mendapatkan kesempatan sekolah ke luar negeri.

Cerita ini, akan menjadi momen yang bisa aku banggakan kepada anak-anakku kelak nanti.